Program Televisi dan Radio, Antara Menarik dan Tidak
Rifki Amelia
Begitu banyak pilihan program yang disajikan oleh media penyiaran berupa televisi dan radio. Semua orang bisa menikmatinya secara gratis kecuali untuk televisi berlangganan. Dengan sajiannya yang diberikan secara cuma-cuma tersebut, sebenarnya kita tidak perlu lagi mengalami kerepotan. Kita tinggal duduk dan menikmati sajian dari media tersebut. Namun, selera dan nurani konsumen media penyiaran bukan berarti berhenti begitu saja. Kadangkala saya sebagai konsumen media penyiaran juga kerap terusik dengan sajian yang kurang menarik baik dari segi kualitas maupun cara penyajian.
Program televisi yang paling tidak saya sukai adalah sinetron. Hampir seluruh sinetron yang diputar di televisi semuanya tidak menarik kecuali pemainnya yang memang cantik dan tampan. Cerita yang diangkat hanya itu-itu saja dan disajikan dengan sangat dangkal karena kurangnya pendalaman karakter dan alur cerita. Terutama sinetron INAYAH yang ditayangkan di Indosiar setiap Senin hingga Jumat pukul 20.00 WIB. Sepertinya sinetron INAYAH ini mencoba untuk tampil berbeda, tetapi hasilnya justru lebih fatal. Penyajian cerita tidak masuk akal karena mustahil terjadi di dunia nyata, misalnya seorang perempuan yang bisa memiliki anak dari setan. Tokoh-tokoh dengan segala atributnya terasa kurang pas, termasuk busana para tokoh yang tidak sesuai dengan karakter. Sinetron ini berani menampilkan logat Jawa yang kental, tetapi menjadi sangat mengganggu ketika logat ini terkesan dipaksakan dan berlebihan dalam setiap dialog karena beberapa pemainnya bukan orang yang berbahasa Jawa dalam kesehariannya. Sinetron INAYAH seperti halnya sinetron-sinetron lainnya juga kerap terdapat kesalahan-kesalahan teknis seperti jump shot yang kurang cermat. Adegan yang sama dengan pengambilan gambar dalam waktu berbeda sering menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil karena ketidakcermatan tersebut seperti misalnya perbedaan posisi rambut, pandangan mata, bahkan pakaian tokoh dalam satu adegan.
Sedangkan program FILM PENDEK yang disiarkan di TV One setiap Minggu pukul 22.00 WIB adalah program televisi yang saya sukai. Acara ini menampilkan film-film pendek berdurasi maksimal 10 menit yang dikirim oleh pemirsa. Selain itu acara ini juga memberikan beberapa pengetahuan seputar dunia perfilman, teknik pembuatan film, dan juga seni peran. Dengan adanya program acara ini, saya bisa memperoleh pengetahuan mengenai seluk-beluk dan teknik dalam film yang relatif sulit diperoleh. Selain itu acara ini dapat menjadi sarana yang baik bagi filmaker-filmaker pemula untuk dapat mengembangkan minatnya dengan mempublikasikan hasil karyanya secara luas melalui media televisi. Hal ini secara tidak langsung dapat menciptakan iklim yang baik dalam dunia perfilman di Indonesia sehingga kualitasnya pun dapat terus ditingkatkan.
Media penyiaran yang lainnya lagi adalah radio. Biasanya saya akan mendengarkan siaran suatu radio asalkan program siaran tersebut ada unsur musik sehingga bisa didengarkan ketika bersantai. Namun, menurut saya ada satu acara musik yang menarik di I-Radio (Jogja 88.7 FM) setiap Senin pukul 20.00 WIB yakni KUPAS ABIS. Program KUPAS ABIS ini merupakan resensi album musik yang sangat informatif. Apalagi pembawa acaranya adalah Nina Tamam dan Bens Leo yang memang sangat paham dengan perkembangan musik di Indonesia. Selama 2 jam, acara ini mengupas habis satu album terbaru yang rilis dari musisi Indonesia. Seluruh lagu yang diputar adalah lagu dari musisi yang sedang dibahas albumnya. Album satu musisi tersebut dibahas dari berbagai segi secara detil seperti orang-orang yang terlibat, strategi promosi, konsep cover album, hingga suka-duka di balik pembuatan album tersebut. Selain itu, ada satu segmen menarik di acara ini yaitu ANTI LIPSINC, di mana sang musisi akan membawakan lagu secara live (biasanya dalam bentuk akustik), tidak secara lipsinc seperti yang dilakukan sebagian besar musisi dalam acara-acara musik, sehingga saat ini penampilan akustik dan live seperti ini menjadi langka di televisi. Melalui acara ini pula, kita bisa mengetahui musisi yang benar-benar mempersiapkan albumnya secara maksimal dan yang tidak sehingga kita pun tidak salah pilih ketika membeli albumnya.
Sedangkan BURSA TEMBANG yang disiarkan di Rakosa Female Radio (Jogja 105.3 FM) setiap Minggu pukul 08.00 WIB adalah program radio yang tidak saya sukai. Program ini juga membawa musik sebagai kekuatan utamanya tetapi saya kurang suka dengan cara penyajiannya. BURSA TEMBANG hadir dalam durasi yang panjang tetapi cukup membosankan karena sangat sedikit yang bisa kita peroleh dari acara ini selain iklan dan penyiar yang menunggu telepon masuk dari pendengar. Penyiar menawarkan dua lagu yang bisa dipilih oleh pendengar. Nantinya akan dibatasi maksimal 3 penelepon dalam setiap penawaran. Lagu dengan suara terbanyak, itulah yang akan diputar. Waktu untuk program ini banyak yang habis untuk menunggu telepon dari pendengar yang akan memilih lagu. Tentunya pendengar akan semakin malas menelepon kalau lagu yang ia pilih belum pasti akan diputar karena harus memastikan suara terbanyak. Kesempatannya lebih kecil daripada program request lagu biasa. Bahkan pernah ada pendengar yang menelepon dua kali dengan nama yang berbeda demi agar lagu favoritnya bisa diputar.
Kadangkala kritik-kritik yang terlontar dari konsumen media kurang dapat mempengaruhi suatu program siaran apalagi kalau jumlah pengkritik sangat sedikit dan program siaran tersebut telah meraih audience rating yang tinggi. Saya jadi teringat perkataan teman saya dari ayahnya yang bekerja di Depkominfo bahwa kita lebih baik tidak mengkonsumsi program siaran yang kurang bagus (atau cari saja program dari kanal lain) hingga rating menurun dengan sendirinya dan hilang daripada terus berkomentar tanpa hasil. Namun saya sendiri tetap menganggap komentar itu perlu agar paling tidak orang-orang di sekitar juga bisa berbagi dan ikut mendiskusikannya.
Penulis menyusun tulisan ini untuk tugas mata kuliah Media Penyiaran di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.