Kuncinya cuma usaha, doa, sabar, dan bisa mengambil hikmah. Kalau hal-hal tersebut sudah bisa dilakukan, kita tinggal yakin bahwa semua pasti indah pada waktunya (kalimat penghiburan yang paling efektif, menurut saya) dan kita juga jadi lebih tenang menghadapi hidup yang semakin sulit. Tidak percaya?? Kita yang tidak percaya mungkin telah berhenti sebatas usaha dan doa. Memang ada di antara kita yang hanya dengan usaha dan doa telah berhasil meraih impiannya. Namun ada juga yang masih harus pontang-panting mengejar keberhasilan itu. Apapun itu kata putus asa harus jauh-jauh dari hidup kita. Setelah berusaha dan berdoa kita juga perlu sabar karena semua pasti memerlukan waktu. Dan tentunya ketika seseorang bisa mengambil hikmah, maka apapun yang terjadi padanya tidak pernah ada kata sia-sia.
Saya sendiri percaya dengan kunci-kunci tersebut. Saya punya banyak impian yang ingin diwujudkan, apalagi usia saya masih tergolong muda sehingga masih berani mengukir mimpi-mimpi yang kadang terlalu sulit diwujudkan. Berbekal semangat jiwa muda, mimpi-mimpi itu mampu tetap singgah di benak saya. Tidak sulit sebenarnya untuk menggambarkan perjalanan kunci-kunci tersebut. Tak usahlah hal-hal yang muluk, hal-hal kecil yang terlupakan pun sebenarnya mengandung kunci-kunci tersebut. Saya ingin berbagi pengalaman-pengalaman kecil tentang perjalanan dari usaha hingga hikmah tersebut. Di balik segala hal yang kita alami, Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.
Saat ini saya kuliah ilmu komunikasi di universitas negeri terkemuka di Yogyakarta (kita sebut universitas A). Saya kerap merenung betapa beruntungnya dapat memiliki kesempatan kuliah di sana setelah berjuang keras dan terus berdoa. Selama setahun saya menghabiskan waktu untuk ikut bimbingan belajar. Sampai di rumah pun hanya belajar dan belajar. Sebelumnya saya juga sempat mendaftar di jurusan yang sama di universitas swasta (sebut saja universitas B) dengan reputasi cukup baik di Yogyakarta dan diterima. Ini hanyalah langkah saya untuk berjaga-jaga bila nanti saya mengalami kegagalan masuk universitas negeri dimaksud. Dan ternyata saya diterima juga di universitas A dan tentu saja langsung memilihnya tanpa perlu berpikir lagi. Beberapa bulan kuliah di universitas A, saya masih suka membanding-bandingkan universitas A dan B. Bahkan pernah sampai pada kesimpulan fasilitas praktik di universitas B lebih lengkap untuk meningkatkan keterampilan dan universitas A hanya jual nama saja. Kini setelah dipikir-pikir, saya sungguh bersyukur tidak jadi mengambil kursi saya di universitas swasta tersebut. Rupanya Tuhan memang berkehendak saya kuliah di universitas negeri karena ternyata banyak hal-hal di universitas B yang nantinya akan membuat saya tidak menikmati kuliah di sana. Gaya hidup mahasiswa unversitas B memang jauh berbeda dengan kepribadian saya, mungkin saya tidak akan mampu menyesuaikan diri di sana. Dan belakangan saya juga tahu bahwa ternyata si A juga kuliah di sana. Si A adalah salah satu bagian dari masa lalu buruk yang telah saya coba lupakan. Kalau saya kuliah di sana, sudah dapat dipastikan saya tidak akan bisa menikmati hari-hari saya di sana. Meski sebenarnya dari hati yang terdalam masih ingin mencoba memperbaiki hubungan. Ketika saya bercerita tentang hal ini pada adik saya, ia menambahkan satu hal lagi, “Kalau kakak nggak kuliah di universitas A, kakak nggak akan bertemu si B.”
Hmm, memang benar, satu hal lagi yang patut saya syukuri. Si B adalah cinta pertama saya yang mampu menghapuskan luka-luka di masa lalu. Tak peduli bagaimana kelanjutannya nanti, yang pasti ia adalah orang yang berhasil membuat saya tetap tersenyum dan semangat menghadapi hari-hari yang berat. Oke, sekarang yang perlu saya lakukan hanyalah tetap bersyukur dan menikmati apa yang telah Tuhan anugerahkan :)

Advertisement